DIGITALISASI
UCAPAN SELAMAT UNTUK PENGANTIN
Pada bulan ini lagi
ramainya perayaan pernikahan. Sehingga kadang tiap jalan ada satu
atau dua yang ditutup atau separuh badan jalan di jadikan resepsi
pernikahan. Tak urung juga mengganggu jalan lalu lintas masyarakat.
Kebetulan juga pada saat
ini musim lagi tidak begitu bersahabat sehingga genangan air hampir
selalu di jumpai di mana-mana. Selalu menyapa pengguna jalan
terutama dengan kecepatan tinggi. Tak ayal pakaian berlepotan lumpur.
Menghadiri pesta
pernikahan adalah suatu kegembiraan, namun di tengah guyuran hujan
dan jauhnya lokasi membuat banyak orang berfikir jalan lain atau
menunda esok hari. Lokasi yang jauh yang harus dilewati yang juga
membahayakan bagi pengendara baik harta maupun jiwa. Sisi lain
hadirnya para undangan adalah sebuah ‘kemewahan ‘ dan nilai
tambah tersendiri bagi pengantin.
Dalam ucapan bela
sungkawa bagi kematian sesorang sudah wajar dan menjadi tradisi bagi
teman atau kolega bisnis mengirimkan bunga, yang tak murah. Namun
belum lumrah untuk sebuah acara resepsi pengantin. Kemungkinan yang
ada adalah melalui SMS yang hanya diketahui oleh pengantin, jika
teman atau undangan ada yang tidak dapat menghadiri resepsi.
Selain itu untuk mengirimkan sejumlah uang melaui rekening untuk
mempelai belum lumrah saat ini.
Gagasan yang mungkin
dipakai untuk mengatasi hal seperti ini adalah disiapkan monitor
besar disamping pelaminan mempelai yang on line 24 jam menayangkan
ucapan selamat dari teman-teman jauh atau instansi tempat ia bekerja
(Seperti FB). Sehingga tiap ada ucapan baru yang masuk dapat
langsung ditayangkan. Sehingga mempelai dapat mengetahui teman-teman
yang mungkin berhalangan dan tanpa terganggu dengan bunyi SMS
atau tak sempat membalas.
Bagaimana dengan uang
bingkisan atau hadiah, bisa model rekening langsung atau pembayaran
elektronik model tertentu yang sudah diintegrasikan dengan
pelayanan ucapan selamat, tentang jumlah nominal lebih baik hiden
saja.
Cara
Menghormati Pahlawan
Salam
Merdeka. Para veteran atau janda veteran tahun ini berhari raya dua
kali. Pertama Hari Raya Idul Fitri bagi yang Islam dan Hari
Kemerdekaan, 17 Agustus. Pada hari itu bagaikan tamu agung.
Menghadiri undangan di barisan depan. Ada juga yang diwancarai bagai
para artis. Cuma sehari, paling lama seminggu. Setelah itu, ya
kembali ke asalnya. Ada yang momong cucu, buka warung dan kegiatan
biasa. Bahkan ada yang tak mau didaftar sama sekali.
Jika
kita menerima undangan atau edaran yang ada ayat sucinya, sering di
tulis peringatan ,”Harap jangan ditaruh sembarangan ada ayat-ayat
suci al Quran.” Maka kita pun akan menaruh pada tempat yang benar.
Bukan disobek dan di lempar ke tong sampah.
Mari
kita melihat gambar mata uang kertas kita.Mulai seribu, dua ribu,
lima ribu sampai seratus ribu bergambar pahlawan. Mereka adalah
sangat berjasa dalam merebut kmerdekaan. Mereka berjuang tanpa
pamrih.
Lantas
bagaimana kita cara menyimpan uang itu ?, Bagaimana cara kita
melipat dan memperlakukan uang kertas yang bergambar para pejuang
kemerdekaan bumi pertiwi ini ?. Bagaimana jika ada yang jatuh
kemudian terinjak-injak di pasar atau di jalan. Kadang diam saja
tidak memberi peringatan. Padahal ada gamabar pahlwan. Bagaimana jika
itu foto kita ?
Alangkah
baiknya, jika di lembara mata uang kertas kita yang bergambar para
pahlawan ada sedikit cerita tentang kepahwanannya meskipun ditulis
kecil tapi bisa dibaca dengan mata langsung tanpa alat bantu.
Sehingga diingat jasa dan semangat juangnya. Pengahayatan akan lebih
mengena jika kita tahu sejarahnya.Tak kenal maka tak sayang. Sebab
kalau foto saja pesan moral kurang mengena dan nanti seperti gambar
kampanye.
Sekaligus
ada tulisan “Dalam
mata uang ini ada gambar pahlawan perlakukan dengan baik”
Sehingga pesan menghayati dan menghargai jasa pahlawan tertanam dalam
masyarakat tanpa harus dipaksakan. Merdeka !
No comments:
Post a Comment